
KITLV-Leiden Kunjungi Mawale Movement
Bertempat di Steleng Mawale Movement di Tomohon, Rabu (17/6) sore
Slamat Trisila ketika melihat buku-buku karya Mawale Movement sedikit terkejut. "Kalian ini cukup baik kreatvitas dan produktivitasnya dalam menulis. Saya kagum," kata yang juga aktif di Yayasan Laras Sejarah itu
Slamat Trisila telah disambut oleh Greenhill Weol, Fredy Wowor, Andre GB, dan Chandra Rorooh. ”Ini merupakan penghormatan bagi kami. Atasnya kami ucapkan banyak terima kasih kepada KITLV. Karena dalam kunjungan ini telah terjadi tukar menukar informasi seputar karya penulisan dan hal berkebudayaan,” ujar Fredy Wowor mewakili
Green mengatakan, ini tentu sesuatu yang positif. Karena dengan begitu, maka karya-karya Mawale Movement telah mendapat pengakuan dari sebuah badan yang fokus pada kegiatan-kegiatan ilmiah dan penerbitan karya-karya ilmiah berskala internasional. "Salah satu lagi tugas kami untuk mengglobalkan pemikiran kebudayaan dari Tanah Minahasa terjawab," ujar Green.
Chandra berpendapat bahwa ini adalah salah satu bentuk peran dari
Andre bahkan memaknai momen ini sebagai sebuah ruang yang baik untuk menunjukkan kepada dunia bahwa kegiatan dan budaya di daerah ini tidak mati. "Ini tentu bagian dari usaha kita bekerja di wilayah kebudayaan," kata Andre.
(Reportase Denni Pinontoan)
...dan revolusi budaya itupun terus berlanjut!
Dunia harus paham dan pada akhirnya harus mengakui bahwa sentralisme dan homogenisasi yang sementara mereka lakukan sedang menemui kegagalannya. Pekerja-pekerja seni muda di seantero Sulawesi Utara dan Gorontalo yang tergabung dalam Mawale Movement kemudian mampu membuktikan diri bahwa ini adalah gerakan budaya sistematik yang kemudian menyebar dan sedang merambah luas di daerah sebaran bahasa Malayu Manado yang tersebar dari Miangas (Nanusa) sampai ke (Gorontalo). Gerakan seni yang memuat kampanye-kampanye budaya yang mau tidak mau telah mengeser meski sedikit peta kebudayaan yang selama ini dalam teritori klaim orang ataupun golongan tertentu.
Dan di Manado sendiri yang kemudian secara sepihak menahbiskan diri sebagai kota yang menjadi pusat seni di Sulawesi Utara, ternyata juga ikut terseret dengan besarnya gelombang salju yang menggelinding karena kesadaran yang ternyata lebih masif meluas di daerah luar daripada Manado sendiri. Jujur, yang lebih banyak bertambah dan meluas di Manado adalah berdirinya puluhan mall-mal baru di sepanjang sisiran pantai Boulevard dan makin banyaknya kemiskinan mewabah akibat kesenjangan sosial, kebijakan politik yang tidak memihak, sistem ekonomi yang kini terbukti gagal, demokrasi yang ternyata di kemudian hari bukanlah jawaban mendasar dari berbagai masalah ini dan kesalahan analisa dan pembacaan peta budaya oleh orang-orang yang mengaku paham dan mengerti benar tentang masalah kebudayaan itu sendiri.
Sekarang, banyak pekerja seni yang akhirnya tidak mampu mempertahankan diri dan memilih perkerjaan sambilan, entah sebagai makelar politik, ataupun makelar kesenian itu sendiri. Dari segi material karya, masyarakat yang telah dihadapkan dengan sistem penerbitan mayor yang elitis, akumulatif, menindas dan anti humanisasi ikut dihajar dengan kesombongan pekerja seni yang membangun kastil-kastil megahnya, namun tak mampu sekedar memberi sekerat roti kepada orang yang kehilangan arah.
Gerakan Sastra Malayu Manado yang adalah anak kandung dari gerakan counter culture Mawale Movement telah membuktikan bahwa segala kemungkinan itu belum mati. Kemajuan tetaplah sebuah keniscayaan. Dan tidak hanya dengan membukukan karya sebagai solusi tunggal mempublikasikan karya. Lewat dunia maya/cyber, di situs Sastra Manado (sastramanado.co.nr), Sastra Minahasa (minahasa-sastra.blogspot.com), Sastra Gorontalo (sastra-hulondalo.blogspot.com), Pinawetengan Muda (pinawetengan-muda.blogspot.com) dan masih ada lagi berbagai galery karya pribadi dari beberapa orang (yang bisa anda lihat link-nya di blog-blog di blog ini) hampir semua karya-karya sastra -budaya dipublikasikan kepada dunia. Pengunjung yang datang dan mengunjungi situs dan berbagai blog inipun tak hanya datang dari Sulut-Gorontalo saja, tapi dari berbagai belahan dunia. Mawale Moement membangun sendiri jaring-jaring kesenian dengan semangat kemandirian. Membuktikan bahwa usaha serius dan konsisten pasti akan membuahkan hasil.
Yang saya tuliskan bukan untuk menyombongkan diri. Tidak. Ini hanya upaya kecil untuk memberikan ruang apresiasi kepada semua orang muda yang telah memberikan waktu, tenaga, dan sumbangan materi dari kantong pribadi hanya agar kesenian di Sulawesi Utara dan Gorontalo tak surut. Kerja-kerja dengan nafas kebersamaan yang berlangsung dalam kesadaran bersama, bukan karena paksaan. Karena kami yakin bahwa membangun kesenian secara tulus adalah sebuah jalan lain membangun kebudayaan. Lagipula yang kami lakukan hanyalah sebuah invesatasi kecil untuk hari esok. Yang jelas, kami telah memulai dan masih terus bergerak tanpa menutup diri. Kami percaya bahwa tanggung jawab membangun peradaban adalah tanggung jawab bersama. Dan dengan semangat IDENTITAS, KREATIFITAS, KONTEMPORERITAS, kami akan terus mendorong maju kereta Mawale Movement sejauh mungkin. Dan karena kami berbuat meski minimal, maka akan sangat wajar jika kami berteriak :
SO TORANG NO TU BAROL!!!
(Pemampatan dari esei Andre GB yang secara penuh dapat dibaca di http://sastra-nanusa.blogspot.com)
Selasa, 09 Juni 2009
Jaringan Blog Sastra Mawale Movement

Diposting oleh Mawale Movement Center di 20.59 0 komentar
Label: Sastra
Jaringan Blog Seni-Budaya Mawale Movement
http://charlieboysamola.wordpress.com/
Diposting oleh Mawale Movement Center di 20.43 0 komentar
Label: Seni-Budaya
Jaringan Blog Ide dan Pemikiran Mawale Movement

http://infominahasa.blogspot.com
Diposting oleh Mawale Movement Center di 20.27 0 komentar
Label: Ide dan Pemikiran
Jaringan Blog Teknologi Mawale Movement
Diposting oleh Mawale Movement Center di 20.12 0 komentar
Label: Teknologi